
(dc: repost)
Menarik untuk mencermati posting 'Antar Koridor' nya bung Ismail dan tanggapannya oleh bung Putra. Menurut saya, motto Transjakarta: 'Tradisi Baru Bertransportasi' merupakan suatu proses yang masih berlangsung dan yang masih harus terus kita tumbuhkan dan sempurnakan.
Membaca berita-berita tentang dampak usaha pen-steril-an jalur busway yang dimulai lagi sejak kemarin mengingatkan saya pada perjalanan saya hari Rabu lalu. Kebiasaan saya, bila pulang agak malam, saya cenderung untuk menggunakan TiJe koridor II. Melewati halte Cempaka Timur, menjelang perempatan Cempaka Mas, bus TiJe yang saya gunakan, tiba-tiba berguncang dengan keras, oleng kekanan, kemudian oleng kekiri dan oleng kekanan lagi beberapa kali, sampai akhirnya bisa meluncur dengan tenang lagi mendekati lampu lalin yang berwarna hijau. Bermacam komentar yang keluar dari pengguna di dalam bus yang merasakan guncangan yang cukup keras tersebut. Ada yang mengingatkan pramudi untuk lebih berhati-hati, ada pula yang mengumpat pemerintah karena kondisi jalur dan jalanan di Jakarta yang banyak berlubang. Keluhan-keluhan tersebut dapat saya maklumi karena pengguna merasa seperti dalam suatu pendulum; terombang-ambing di dalamnya. Sebentar kekanan, sebentar kekiri.
Dalam diskusi suatu forum untuk mengatasi kemacetan, muncul pendapat bahwa dengan menggantikan mobil dengan sepeda motor maka akan terjadi penghematan pemakaian ruas jalanan sampai 50%. Asumsinya dengan satu mobil yang berisi dua orang akan menempati luas 2mx3m = 6m2, sedangkan dengan dua sepeda motor hanya akan menempati luas 2×1mx1,5m = 3m2. Pendapat ini menurut saya tidak benar, tapi bagaimana mencoba menjelaskannya? Karena menurut saya, untuk kondisi tertentu penggunaan MRT jauh lebih effective dibandingkan dengan penggunaan mobil sedan apalagi bila dibandingkan dengan sepeda motor.
Ketika seorang rekan bercerita tentang pengalamannya di Taipeh; saya jadi teringat akan sebuah seminar yang saya hadiri di sana beberapa tahun yang lalu. Seminar tersebut membahas tentang suatu teknologi semiconductor yang saat itu sedang menjadi perbincangan hangat. Menurut sang pembicara (seorang profesor ahli riset), untuk mendapatkan komponen semiconductor yang berkecepatan tinggi diperlukan antara lain: bahan yang tepat, jarak antar lempeng conductor yang super sempit, juga tegangan/power yang tinggi.
Yang menarik bagi saya, saat ini, hanya pada komponen kedua, jarak antar lempengan yang super sempit. Dengan jarak lempeng conductor yang sedemikian dekatnya, loncatan electron (dari cathode ke anode) akan bertambah cepat karena jaraknya sangat dekat.
cat: tulisan ini pernah saya posting tepat setahun yang lalu dalam situasi banjir juga.(dc)
Kalau minggu lalu sampai minggu ini pekerjaaan saya rasanya datang bertubi-tubi, beberapa hari ini hujan juga serasa tiada henti. Hujan lebat yang mengguyur Jakarta menurut pengamatan saya amat sangat mempengaruhi kehidupan kota ini. Tidak terkecuali lalulintas di jalanannya. Pengaruhnya demikian hebatnya sehingga bisa membatalkan peraturan perundangan; karena hujan lebat maka ’3 in 1’ bisa ditiadakan dengan satu sabda yang juga tidak jelas (Hingga timbul presepsi ’Peraturan dibuat untuk dilanggar’).
cat: repost
Karena saya bukan seorang ahli agama, maka saya ingin melihat Trimurti bukan dari sudut pandang agama/kepercayaan, tapi lebih melihatnya sebagai bagian dari budaya kepemimpinan..
Trimurti yang terdiri dari Brahma, Wisnu, Siwa dalam budaya Hindu dikenal sebagai dewa yang berperan penting dalam kehidupan; baik itu kehidupan makhluk hidup, alam semesta maupun kehidupan budaya itu sendiri.
Komentar Terbaru
4 hari 3 jam yang lalu
3 minggu 2 hari yang lalu
5 minggu 1 hari yang lalu
5 minggu 1 hari yang lalu
5 minggu 3 hari yang lalu
7 minggu 4 hari yang lalu
8 minggu 1 hari yang lalu
9 minggu 2 jam yang lalu
9 minggu 3 hari yang lalu
10 minggu 6 jam yang lalu