
cat: tulisan ini pernah saya posting tepat setahun yang lalu dalam situasi banjir juga.(dc)
Kalau minggu lalu sampai minggu ini pekerjaaan saya rasanya datang bertubi-tubi, beberapa hari ini hujan juga serasa tiada henti. Hujan lebat yang mengguyur Jakarta menurut pengamatan saya amat sangat mempengaruhi kehidupan kota ini. Tidak terkecuali lalulintas di jalanannya. Pengaruhnya demikian hebatnya sehingga bisa membatalkan peraturan perundangan; karena hujan lebat maka ’3 in 1’ bisa ditiadakan dengan satu sabda yang juga tidak jelas (Hingga timbul presepsi ’Peraturan dibuat untuk dilanggar’). Karena hujan lebat maka pengaturan sepedamotor yang seharusnya berjalan di lajur paling kiri diabaikan, walaupun jalur tersebut tidak terendam banjir. Karena hujan maka banyak mobil dan motor masuk lagi ke jalur khusus busway. Karena hujan pula maka polisi dan petugas dishub menghilang dari posnya. Karena takut kehujanan maka pengguna TiJe saling dorong lagi di dalam antrean.
Seperti hujan yang menggerus aspal jalur busway yang baru diperbaiki (dekat halte Bunderan HI, jalan Majapahit, HCB dll). Seperti hujan yang telah melongsorkan lumpur dari taman di median jalanan. Apakah karena hujan juga telah melunturkan budaya disiplin kita dan menimbulkan kembali carutmarut ini? Ataukah (sangat) ketidaknyamanan pelayanan TiJe yang datang terus menerus bagaikan hujan beberapa hari ini, menyebabkan lunturnya kecintaan kita pada TiJe dan melirik moda yang lain? Ataukah hujan cacimaki yang turun setelah peluncuran kor IV- VII, menyebabkan lunturnya semangat memperbaiki diri dari para perencana dan penyelenggara moda transpotasi ini dan tebal telinga?
Bagaimana dengan kita, miliser? Suatu tayangan komersial di televisi tentang produk pemutih kulit memperlihatkan seorang wanita cantik, putih dan mulus terjun ke dalam kolam renang; ketika dia muncul kembali kepermukaan, tampak wajah Aming yang belepotan oleh bedak putih. Bedak pada suatu saat dapat menutupi keburukan. Tapi ketika tersiram air, bedak akan luntur dan tampak wajah aslinya. Kemudian menurut tayangan tersebut, hanya kulit putih sejati yang tidak akan luntur oleh terpaan air.
Semoga masyarakat transpotasi yang mencintai TiJe, yang berdisiplin, yang bersemangat untuk memperbaiki diri, yang bercita-cita mewujudkan budaya baru bertransportasi, mempunyai hati yang ’putih’ sejati, yang tidak akan luntur karena ’hujan’ permasalahan yang kita hadapi ini.
Salam (020107dc).
Komentar Terbaru
1 minggu 20 jam yang lalu
2 minggu 2 hari yang lalu
8 minggu 1 hari yang lalu
8 minggu 5 hari yang lalu
11 minggu 3 hari yang lalu
13 minggu 3 hari yang lalu
13 minggu 3 hari yang lalu
13 minggu 4 hari yang lalu
15 minggu 6 hari yang lalu
16 minggu 2 hari yang lalu