

Ini hasil obrolan saya dengan Mas Deddy Arief:
Sistem tarif flat dulu dipilih untuk diterapkan pada busway di Jakarta, dengan pertimbangan demi kemudahan dan efisiensi naik-turunnya penumpang. Ini mencontoh Bogota. Sekali beli tiket, penumpang dapat jalan ke mana saja dengan busway. Sistem ini juga berlaku di Inggris dan Prancis. Lain halnya yang berlaku di Jepang: tarif yang diterapkan berdasarkan jarak. Makin jauh perjalanan, makin mahal tarifnya.
Baik model Bogota maupun Jepang sama-sama punya kelebihan dan kekurangan. Model Jepang lebih memenuhi rasa keadilan, namun sistem ini teramat rumit. Setiap kali melakukan perjalanan dengan busway, penumpang dituntut terus-menerus memeriksa tiket yang ada di tangan. Ia harus ingat berapa tarif yang telah dibayarnya dan untuk tujuan ke mana.
Sedangkan model Bogota memang lebih terasa tidak adil, tapi menciptakan situasi yang lebih mudah dan lebih nyaman bagi penumpang.
Bagaimana dengan jenis tiket single-trip dan multi-trip? Yang pertama adalah adalah tipe tiket untuk sekali jalan. Sedangkan yang kedua adalah karcis untuk beberapa kali jalan.
Ketika orang naik busway secara multi-trip, tiket di tangannya tinggal disentuhkan ke alat khusus di halte. Begitu disentuhkan, jumlah perjalanan dalam tiket akan secara otomatis berkurang satu. Demikian seterusnya sampai akhirnya jumlah perjalanan menjadi nol.
Pada kondisi nol perjalanan, tiket multi-trip dapat diisi ulang [di banyak tempat di seantero Jakarta?]. Sistem inikah yang akan diterapkan di Jakarta? Terlebih ketika seluruh koridor telah berhasil dibangun dan dioperasikan.
Artikel ini adalah tulisan Djoko Yuwono (Pimred koran TransKota). Artikel ini diposting di milis suaratransjakarta@yahoogroups.com pada 29 September 2006.
Post new comment