

Kemarin malam sekitar pukul 1900 di halte central Pulo Gadung, JTM023 (Jurusan Dukuh Atas2 - Pulo Gadung) yang saya tumpangi berhenti di terminal akhir. Di depannya tampak beberapa JTM yang lain, tepat di depan kami JTM005. Halte akhir Pulo Gadung memiliki 2 lajur. JTM023 merapat ke dekat halte, menunggu bus di depannya maju untuk dapat menurunkan penumpangnya tepat sejajar halte. 10 menit berlalu, bus belum juga maju, penumpang mulai gelisah. Beberapa (sekitar 5 unit) bus yang datang dari arah harmoni tampak masuk melalui lajur yang satunya lagi, menyejajarkan dengan JTM005 dan membuat jembatan sehingga penumpangnya dapat turun segera. 20 menit berlalu, penumpang mulai kesal. Pramudi turun tanpa pemberitahuan, lewat pintu depan sebelah kiri, hanya sebentar memang, namun ini dimanfaatkan beberapa penumpang untuk turun keluar karena memang sudah terlalu lama menunggu di dalam bus. Sejenak kemudian pramudi kembali dengan bersungut-sungut dan mengatakan bahwa dirinya turun karena mengecek BBG, dan bukan untuk meninggalkan penumpang, serta mengomel bahwa katanya pramudi bisa kena sanksi kalau membiarkan penumpang turun lewat pintu depan.
Penumpang makin kesal dengan aksi pramudi yang tidak simpatik tersebut. Sudah menunggu lama, tidak maju-maju, dibentak-bentak lagi. Makin lama makin banyak bus datang dari harmoni dan melakukan hal yang sama dengan bus sebelumnya dan makin membuat kesal penumpang. Singkat kata, setelah dimonitor dan diberi sign dan diteriaki oleh pramudi JTM023, akhirnya bus depan maju sedikit demi sedikit, dan penumpang JTM023 bisa turun.
30 menit habis hanya untuk menunggu turun dari bus saja. Setelah turun, saya amati di antrean terdepan ternyata kosong dan bus-bus di depan sengaja tidak mau maju karena menunggu ada penumpang naik dulu baru bisa jalan (ngetem).
Pertanyaan saya:
1. Apakah memang ada dari kebijakan TiJe untuk ngetem seperti ini?
2. Untuk kasus seperti ini, tidak bisakah dilakukan contingency plan dan mengizinkan penumpang keluar melalui pintu depan sebelah kiri?
3. Apakah untuk mengecek BBG harus keluar dari bus? [mosi tidak percaya :) ]
4. Bolehkah membuat jembatan bus untuk mengusahakan penumpang keluar, seperti yang dilakukan bus-bus dari harmoni tersebut?
--
Salam,
Ida Krisnawati
http://louvre.wordpress.com
Post new comment