

Hari ini jam 15.20 di halte Juanda saya bertanya kalau ingin ke Senen bagaimana. Naik bus warna biru, tunggunya di sebelah kanan, kira-kira begitu jawab petugas.
Saat menunggu terbaca printout pengumuman yang ditempel di kaca, tentang rute BLOK M-SENEN dan SENEN-BLOK M, detilnya tak terbaca dari tempat saya berdiri.
Lumayan lama menunggu si bus biru. Bus Rawa Buaya-ASMI dua kali lewat, demikian juga bus Blok M-Senen dan bus Kalideres-Harmoni. Petugas di bus berteriak-teriak macam kenek jadul "Kalideres! Kalideres!" Menyeruak beberapa orang diantara kerumunan di pintu, berhasil masuk. Saat bus mulai beringsut pergi dan sang petugas mengacungkan jempolnya, seorang ibu menabrak saya dari belakang dan mencoba ke pintu sambil berteriak: "Tunggu! Tunggu!"
Tentu sang petugas tidak mendengar karena kebisingan di luar. Saat si ibu tiba di pintu halte, pintu bus sedang bergerak menutup dan bus sudah berjalan. Sang ibu meneriakkan maki-makian, si petugas hanya melongo terbawa bus menjauh.
Saya bertanya-tanya kenapa tak ada petugas yang membantu memberi panduan arah. Setiap kali ada saja orang yang bertanya arah sebelum memutuskan untuk masuk bus. Sementara petugas di bus menjawab sekenanya seperti diburu waktu. Sedang petugas halte yang tadi tidak kelihatan batang hidungnya...
Teringat usulan anggota milis suaratransjakarta beberapa waktu lalu, saya bertanya kenapa gak ada tulisan rute di pintu. "'Kan sudah ada di depan." jawab petugas.
"Gak keliatan pak. Dari jauh ga keliatan, sudah dekat terhalang dinding. Ngapain cape-cape teriak, kalau ditulis kan ga perlu teriak, penumpang juga ga ragu untuk masuk. Jadi lebih lancar." Ia cuma mengangkat bahu.
Ibu tadi itu kemudian pergi meninggalkan kerumunan di pintu. Saran saya untuk menunggu saja di sini tidak digubris. Ia pergi menunggu di pintu halte yang arahnya berlawanan, ke arah Pasar Baroe, dari sana bus akan berputar kembali melewati halte ini menuju Kalideres. Saat itu, tampak sebuah bus merah-kuning menurunkan penumpang.
Lho bukankah itu bus koridor I, oh ya, rute baru Blok M-Senen. Senen!? Lha saya kan mau ke Senen. Kenapa juga si petugas tadi menyarankan saya naik bus biru. Lalu saya putuskan pindah, menunggu di pintu seberang.
Bertepatan dengan itu, batang hidung sang petugas halte kelihatan keluar dari pintu ruang tiket. "Mas, rute Blok M-Senen lewat sini?" Ia mengiyakan, tapi buru-buru bertanya: "Bapak mau ke mana?" Ke Senen. "Naik yang warna biru pak, di Harmoni ga usah turun, nanti lewat Monas, Balaikota trus ke Senen.. tuh tuh busnya datang".
Saya menengok, benar si biru nongol. Sambil terus memikirkan rute Blok M-Senen, saya naiki bus itu. Ah, saya punya waktu banyak. Coba rute baru deh, ga usah ke Harmoni. Saya pun turun di halte berikutnya, Pecenongan. Beda dengan halte Juanda, di sini pintu halte untuk menaiki bus ke arah yang berlawanan terpisahkan oleh sungai, jadi ada jembatannya.
Di seberang, setelah beberapa bus menaikkan dan menurunkan penumpang, muncullah bus TJ dengan warna yang sangat familiar, warna saat pertama kali busway diperkenalkan. Sebelum naik saya sempatkan dulu bertanya, arah kemana pak? Sang petugas tidak menjawab, saya menjadi ragu, lalu mengulangi pertanyaan. Dia agak ragu mau menjawab, tapi keluar juga tak jelas: "Senen". Saya ulangi jawabannya dengan nada tanya, memastikan apa saya tidak salah dengar. Tapi bus beranjak pergi dan pintu mulai tertutup. Tidak sempat untuk memasukinya.
Uf... saya hampiri petugas halte, dan keterangannya persis seperti petugas halte Juanda. Ketika ditanya kenapa tidak bisa naik bus Blok M-Senen dari sini, ia menyarankan untuk bertanya pada BP.
Apa itu BP, oh ternyata seorang pemuda ganteng berpakaian necis.
Menurutnya bus Blok M-Senen tidak lewat sini, sesapai di Monas ia berputar ke arah Balaikota dst dst seperti bus warna biru. Jadi saya kalau mau ke Senen disarankan kmbali ke seberang, naik bus warna biru yang menuju Harmoni, pesannya: dia tidak berhenti di Senen, tapi di Atrium ...
OK, Atrium itu lokasinya 'kan di Senen. Saya bicara kawasan, ia bicara bama halte. Saya pun ke seberang. Sambil menunggu saya baca pengumuman yang ditempel di kaca, tentang rute Blok M-Senen dan Senen-Blok M. Persis betul seperti yang dikatakan BP.
15:50 saya sudah di atas bus biru. Memutari Harmoni terus menuju Senen, sambil menikmati pemandangan macetnya ibukota. 16:16 di Tugu Tani bagaikan lautan mobil. Sejauh mata memandang, mobil dan motor berhimpitan sabar menanti giliran untuk bergerak.
Ketika meengok ke jendela belakang, tampak sebuah TJ merah-kuning dengan print-out bertuliskan Bundaran Senayan-Atrium...
Tanya kenapa...
Tiba di Senen, saat menapaki jalan menuju Atrium saya tersentak.
Tolol. Kenapa tidak naik bus Rawabuaya-ASMI, bukankah ia mampir di Senen?
Iya. Kenapa ya?
Pikir punya pikir, mungkin karena hanya rute Blok M-Senen yang diumumkan. Tidak ada pengumuman tentang rute Rawabuaya-ASMI, sehingga tak terpikirkan alternatif itu, juga petugas hanya menyarankan naik bus biru...
19:58 kembali, menggunakan bus biru, setiba di Harmoni beberapa penumpang langsung bergabung dengan antrian, ada yang antri untuk arah Kalideres, ada juga yang antri untuk arah Blok M. Padahal antrian begitu panjang dan padat. Padahal mereka bisa turun di Juanda atau Pecenongan, tak perlu mengantri di Harmoni....
Tanya kenapa.
Bahaya !
Petugas berteriak "Kalideres, kalideres" , Ini berbahaya !! membuat rute-rute baru di existing koridor, bisa-bisa ngak lama lagi TIJE seperti bus umum.
bagaimana dengan antrian penumpang ? satu antrian tapi masing-masing punya tujuan berbeda-beda ?
Saya cenderung berpendapat rute-rute baru harus betul-betul di-BATASI, dan jika semua koridor sudah rampung, di-HAPUS!! dan halte interchange di-tingkatkan kapasitas dan kenyamanan-nya.
Alasan HCB dibuat besar
Mungkin pengelola TJ sudah lupa mengapa mereka membuat HCB begitu besar.
Pasti ada alasannya, dan salah satunya saya yakin demi ketertiban penumpang yang naik turun bus dengan beda jurusan di satu titik.
Anda tidak bisa mengharapkan warga Jakarta yang baru kenal moda transport Busway (apalagi di wilayah/koridor baru) untuk langsung mendisiplinkan diri tanpa dibantu oleh sarana.
Bayangkan jika anda masuk ke satu halte penuh di koridor 3 yang dilalui bus dengan rute menuju harmoni, asmi dan pulogadung. Di mana penumpang (demi kenyamanannya masing-masing) bersikeras untuk menunggu bus dengan rute mereka langsung, tanpa mau mengorbankan posisinya di antrian.
Yang ada adalah dorong-dorongan dan bahkan sampai terjadi perkelahian.
Di sisi lain, apakah kepadatan penumpang yang transit di HCB atau halte transit lain (yang saya duga merupakan hal yang ingin ditolong oleh pengadaan rute baru ini) benar-benar sudah berkurang?
Post new comment